Kehidupan Aesop dan Fabel-fabelnya

Aesop (620-560 SM) di lahirkan sebagai seorang budak, kemungkinan besar di Thrace, daerah yang luas di Semenanjung Balkan yang sekarang di kenal sebagai
Yunani, Bulgaria dan Turki. Kaum budak bekerja membanting tulang sebagai pekerja tambang, perkebunan, atau jika mereka beruntung, sebagai pembantu rumah tangga. Seorang budak punya kemungkinan mendapatkan kebebasan jika bekerja dengan rajin dan memberikan pelayanan yang loyal. Aesop, seorang bertubuh bungkuk dan sukar bicara, memiliki dua majikan selama ia menjadi budak. Majikan yang kedua meyadari kecerdasan, akal dan kebijaksanaan luar biasa yang dimiliki pelayannya itu, oleh karena itu pada akhirnya ia membebaskan Aesop.
Para budak yang sudah dibebaskan diizinkan untuk ikut serta di dalam keguatan kewarganegaraan dan berpergian ke mana saja sesuai keinginannya, dan Aesop dengan antusias mengambil kedua kesempatan tersebut. Reputasinya berkembag sampai ia dikenal sebahai pria yang bijaksana dan mulia. Ia kerap bepergian untuk belajar sebanyak mungkin dan seiring dengan usianya yang kian matang, iapun menyebarkan pengetahuannya ke banyak orang di berbagai negara.

Reputasi Aesop berkembang secara luar biasa setelah ia tiba di Sardis, dulunya ibukota Lydia yang termasyur di
Asia Minor (kini menjadi Turki), yang diperintah oleh RajanCroesus. Croesus, yang karena kekayaannya yang melimpah kemudian di gunakan sebagai istilah terkenal “ sekaya Croesus”, dikenal sebagai penyokong kegiatan pembelajaran; ia mengizinkan Aesop untuk berinteraksi dengan orang-orang bijak yang terkenal di zaman itu termasuk Solon dan Thales, dua ria yang terkenal bijak di Yunani. Aesop menunjukkan kemampuan yang lebih dari sekadar mengesankan saat berhadapan dengan orang-orang bijak ini, dan hal itu membuat Croesus begitu terkesan sehingga Raja menginstruksikan afar Aesop menetap di
Sardis. Selama periode tersebut, Aesop mulai menyusun koleksi kisah yang mencerahkan tentang prilaku manusia. Ia menggunakan fabel-fabel endek tersebuty unruk menyampaikan berbahai kebenaran dan pembelajaran universal tentang bagaimana seharusnya orang menjalani hidup yang baik. Ia memberikan sifat manusia kepada berbagai hewan di dalam fabel-fabel tersebut dan menerjunkan mereka ke dalam berbagai konflik. Pesan moral yang terkandung di dalam kisah-kisah tersebut kerap berupa peringatan. Facel-fabel Aesop mendapatkan pengakuan secara luas setelah orang menyebarkan dari mulut ke mulut.

Berkat pikiran dan kebijkasanaan Aesop yang hebat, Croesus merekrutnya untuk mengikuti berbagai misi diplomatik, dengan mengirimnya ke berbagai
kota seperti Athena dan Korintus. Aesop menggunakan fabel-fabelnya untuk meredahkan ketegangan, membangun konsensus, dan membantu kegiatan pemerintahan. Salah satu misi diplomatik itulah yang mempertemukan Aesop dengan ajalnya.

Untuk menunjukkan sikap dermawan kepada rakyatnya, Croesus mengirim Aesop ke Delphi, tempat tinggal Oracle dan salah satu tempat perlindungan religius paling berpengaruh di zaman Yunani Kuno, untuk membagikan sejumlah besar emas kepada seluruh rakyat. Namun begitu ia tiba di
sana, Aesop merasa muak melihat sifat tamak dan tidak menunjukkan rasa terimakasih aras pemberian tersebut. Berbagai upaya untuk menunjukkan kesalahan dalam berperilaku yang dilakukan orang-orang itu, yang digambarkannya melalui fabel-fabelnya, sia-sia belaka. Akhirnya, dengan rasa frustasi dan kecewa dengan para penduduk
Delphi, Aesop mengirimkan kembali emas tersebut ke Croesus. Orang-orang tersebut menjadi marah begitu mengetahui apa yang dilakukan Aesop. Mereka mengabaikan status diplomatik maupun reputasinya sebagai orang baik dan bijaksana, serta mengeksekusinya sebagai seorang penjahat masyarakat dengan melemparkannya ke jurang.

Tidak lama kemudian,
Delphi dihantam oleh serentetan malapetaka. Banyak yang meyakini bahwa rangkaian kemalangan tersebut merupakan akibat dari pembunuhan Aesop yang tidak adil, dan frasa “tercemar darah Aesop” menjadi adagium terkenal yang menggambarkan bahwa perbuatan buruk yang dilakukan terhadap orang lain tidak akan berlalu begitu saja tanpa hukuman. Warga Delphi pada akhirnya bertobat dan menerima ganjaran atas kejahatan yang mereka lakukan terhadap Aesop. Lysippus, seorang pematung terkenal Yunani, mengabadikan pengarang fabel iru dengan membuat patung Aesop di Athena.

“The Turtle Becomes A CEO”

2 Tanggapan ke “Kehidupan Aesop dan Fabel-fabelnya”

  1. Pak, saya minta ijin tampilkan linknya di entry saya tentang Aesop Fables ya.

  2. [...] Ciri khas dongeng-dongengnya adalah muatan moralnya. Mungkin dari sinilah muncul istilah: “Moral of the Story is….”. Pas googling, saya temukan blog berbahasa Indonesia yang menulis tentang Bapak Aesop ini: more about Aesop. [...]

Tinggalkan Balasan