Keledai Pengangkut Garam

donkey03.jpgSeorang pedagang memutuskan untuk mengangkut garam ke pasar dan ia menumpuk berkarung-karung garam di punggung keledainya kemudian berangkat ke kota. Untuk menuju kota, mereka harus menempuh jalan di dekat lereng bukit yang licin. Disaat mereka melewati lereng yang licin itu, keledainya terpeleset dan jatuh ke sungai dibawahnya. Air sungai melarutkan semua garam di dalam karung sehingga mengurangi beban di punggungnya. Pedagang yang malang itu pulang lagi kerumahnya dan kembali menumpuk karung-karung garam ke punggung keledainya.

“Aku muak menangkut berbagai barang, terutama garam” kata keledai itu pada dirinya sendiri. “Jika aku terus menerus jatuh ke sungai, aku bisa terus menerus menyingkirkan muatan-muatan ini.”

Saat keledai itu mendekati lereng bukit untuk kedua kalinya, ia dengan sengaja membuat dirinya terpeleset dan kembali terjatuh ke sungai. Saat itu pedagang sudah menangkap trik keledainya. Pada perjalanan berikutnya, ia mengikatkan setumpuk karet busa di punggung hewan itu. Ketika keledai jatuh ke sungai, ia harus berjuang dengan muatan yang menjadi 2 x lipat berat di punggungnya.

Pesan moral Aesop : Lawanlah trik lama dengan trik baru

Perspektif : Garam memiliki arti religius yang penting pada zaman kuno. Kamu Yahudi mengusapkan garam ke tubuh bayi yang baru di lahirkan untuk memastikan bayi itu diberi kesehatan yang baik. Ada kalanya, garam menjadi begitu langka sehingga di gunakan sebagai pengganti uang. Para prajutir Caesar menerima sebagian upahnya berupa garam. Jika memungkinkan pedagang bisa saja mencegah perbuatan nakal keledeinya dengan menjelaskan kepadanya kebutuhan alamiah untuk menjadi bagian dari sesuatu yang lebih besar dan lebih berarti. Andai saja keledai menyadari betapa penting pekerjaan yang di embannya. Keledai mungkin akan mengangkit muatannya dengan rasa bangga, karena tahu bahwa garam itu akan di gunakan untuk melindungi bayi atau membayar upah para prajurit.

Apakah pekerjaan yang kita lakukan hanya sekedar mencari nafkah? atau mengemban suatu misi khusus????

Shirley, seorang petugas kebersihan di RS umum berkapasitas 250 tempat tidur. Ia hanya merupakan salah satu dari 200.000 karyawan yang dipekerjakan oleh ServiceMaster, perusahaan konglomerat yang melayani lebih dari 6 juta customer di 31 negara. C. William Pollard dalam bukunya The Soul od the Firm, ia mengatakan bahwa Shirley pada awalnya hanya mencari pekerjaan. Sikapnya berubah setelah ia direkrut. Pekerjaannya sebagai petugas kebersihan menjadi alasannya. “Jika kami tidak membersihkan dengan usaha yang berkualitas,” Shirley menjelaskan, “kami tidak bisa membuat para dokter dan perawat terus bekerja; kami tidak bisa membuat para dokter dan perawat terus bekerja; kami tidak bisa menolong pasien. Tempat ini akan di tutup jika tidak memiliki petugas kebersiham.”

Misi Shirley jauh lebih mulia: ia adalah bagian dari tim yang membantu menyembuhkan orang sakit. Pollard percaya bahwa para manajer akan mendapatkan hasil yang lebih baik jika mereka memanfaatkan kekuatan dari tujuan : “Orang ingin bekerja demi suatu alasan tertentu, bukan hanya untuk mencari nafkah.”

“apakah kita memahami setiap pekerjaan yang kita lakukan memiliki tujuan yang mulia?”

sumber :
The Turtle become a CEO
The Soul of the Firm

Tinggalkan Balasan